π Bahagia Tanpa 'Dia' ?!
(Bag 2)
πΉ Untuk ‘Cinta’
"Begitu indah, namun sangat pahit"
Mungkin itulah rata-rata perasaannya kalau teringat dengan masa lalu.
Terutama jika sudah menyangkut tentang cinta.
πΈ Dulu, tiada hari tanpa ‘cinta’.
Dari bahagia dan tawa yang tiada habisnya saat bersua, hingga pilu dan rindu -saat berjauhan- sampai pun insomnia πΈ
π Ya, itu dulu. Setelah Allah membuka mata hati ini, menunjuki kita pada jalan keislaman yang benar.
Mengingatnya saja membuat hati kecewa
Bukan kecewa karena hal itu telah berlalu dan berhenti, namun kecewa kenapa hal itu mesti terjadi.
Sahabat, siap tak siap, masa lalu itu harus kita lupakan, jangan sampai kita menjadi narapidana masa lalu, yang terpenjara oleh kenangan buta.
π Jadilah dirimu saat ini,bukan dirimu kemarin pagi π
Yakinlah,bahwa :
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*dengan seorang yang lebih baik dan dalam kondisi yang terbaik, insya Allah.*
Sebuah fenomena yang menarik untuk kita renungi. Banyak remaja yang terkurung oleh ‘cinta’-nya di masa lalu. Sehingga membuatnya lemah dan tak bersemangat menjalani hidupnya tanpa ‘dia’. Padahal, jika ditanya :
π"Apakah kamu yakin bahagia berjalan dengannya?"π
Nggak ada orang yang bisa memastikan jawabannya.
πΌ Yang ada hanya angan dan mimpi di siang hari.
πΌ Yang hasilnya nggak seindah yang dibayangkan, hidupnya hanya akan menambah populasi para penggalau di dunia, sebuah populasi yang tak memiliki prinsip yang kuat, yang hanya mengalir bersama angan yang tak jelas arah.
_Kulewati rerumahan, rumah-rumah Laila_
_Aku ciumi dinding ini; semua dinding-dindingnya_
_Bukanlah cinta rumahnya yang membuat kalbu merindu_
_Tapi cintaku kepada sang penunggu rumah itu_
_Tiada di bumi yang lebih sengsara dari seorang pecinta_
_Meski ia dapati udara manis dirasa_
_Engkau ‘kan dapati tangisnya setiap waktu_
_Karena takut berpisah atau karna rindu_
_Pindahlah hatimu semau anganmu_
_Tiada cinta, kecuali cinta pertamamu_
_Berapa banyak persinggahan seorang pemuda_
_Dan kekasih abadinya di persinggahan yang pertama_
πΌ (Syair Qais, Si Penggila Laila) πΌ
Sayangnya, indah syair Majnun (seorang gila) tak seindah hikayat akhir hidupnya.
Cinta dan kenangan masa lalunya hanya membuatnya ‘mabuk’ dan lupa dunia.
Bukan cinta dan happy ending yang didapat, justru kisah pilu dan kasih yang tak sampai menutup hayat.
π° Dunia Bukan Segalanya
Berbeda lagi urusan karir atau pekerjaan.
πΉ Kalau cinta itu identik dengan kecantikan, ketampanan dan kekayaan
π° Kalau karir banyak orang yang memandang semakin menghasilkan, semakin membahagiakan, tak pandang halal-haram.
Akhirnya, banyak hartawan yang ‘gila’ tanpa sakit jiwa.
Mabuk kepayang mengejar dunia, tak peduli apa pun caranya. Terseok-seok dan berdarah-darah, dari terbelit hutang milyaran hingga lari ke luar negeri dengan status sebagai buronan.
Dengan rela dia menjual segalanya demi uang; waktu adalah uang, jabatan untuk uang dan kehormatan pun bisa ditukar dengan uang.
π“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.”π
π (Q.S.Al-Baqarah 275)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Uang bukan segalanya.Karena tidak segalanya bisa dibeli dengan uang*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
πΌ Berapa banyak orang yang kaya raya,tapi keluarganya tak bahagia?!
πΌ Berapa banyak kasus dan peristiwa tragis disebabkan karena luapan harta?!
πΌ Berapa banyak para jutawan dan ‘triliunan’, namun hatinya bernilai ‘recehan’…?!
Ya, karena kebahagiaan itulah inti dari segalanya. Kekayaan hati, yang artinya merasa cukup dengan apa yang Allah beri, mensyukuri yang banyak dan merasa cukup dengan yang ‘sedikit’, itulah kaya yang sebenarnya.
ΩَΩْΨ³َ Ψ§ΩْΨΊِΩَΩ ΨΉَΩْ ΩَΨ«ْΨ±َΨ©ِ Ψ§ΩْΨΉَΨ±َΨΆِ، ΩَΩَΩِΩَّ Ψ§ΩْΨΊِΩَΩ ΨΊِΩَΩ Ψ§ΩΩَّΩْΨ³ِ
π“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta,akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup didalam jiwa(hati)”π
π (HR.Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 2417)