*_Malaikat Maut_*
*_At-Tadzkirah; Bekal Menghadapi Kehidupan Abadi;_*
*_Imam Syamsuddin al-Qurthubi_*
*_Hai manusia,bagi orang tidur, kini tiba saatnya bangun. Bagi orang yang lalai, telah tiba saatnya sadar, sebelum maut menyerbu dengan segala pahitnya. Sebelum semua aktifitas terdiam dan nafas terhenti, lalu dipaksa masuk ke kubur, dan tinggal bersama tulang-belulang yang telah binasa._*
*_Umar bin Abdul Aziz meriwayatkan, dia pernah menulis surat kepada beberapa orang shahabatnya, berisi nasehat, antara lain, “Amma ba’du, sesungguhnya aku berpesan kepada kamu sekalian, bertakwalah kepada Allah Yang maha Agung, dan senantiasa takut kepada-Nya. jadikanlah takwa dan sikap wara’ sebagai bekal kamu sekalian. Sesungguhnya kamu saat ini tinggal di negeri yang sebentar lagi akan berubah penduduknya. Sedang Allah di hamparan kiamat kelak dengan praharanya, pasti akan menanyakan kepadamu tentang berbagai hal yang sekecil-kecilnya dan serinci-rincinya._*
*_Maka, ingatlah Allah, ingatlah Allah, hai hamba-hamba Allah! Ingatlah mati yang pasti datang, dan simak firman Allah swt, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali ‘Imraan: 185) dan firman Allah Azza wa Jalla, “Semua yang ada di bumi akan binasa.” (ar-Rahmaan: 26)_*
*_Dan firman-Nya pula, “Bagaimanakah [keadaan mereka] apabila malaikat [maut] mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (Muhammad: 27)_*
*_Saya dengar, wallaaHu a’lam, Malaikat Maut itu memukul dengan cambuk api. Dan Allah Jalla DzikruHu memang berfirman, “Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi untuk [mencabut nyawamu, akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmu kamu akan dikembalikan.” (as-Sajdah: 11)_*
*_Dan saya dengar juga, wallaaHu a’lam wa Ahkam, bahwa Malaikat Maut itu, kepalanya di langit dan kakinya di bumi. Dan bahwa dunia ini dihadapan Malaikat Maut hanyalah seperti piring di hadapan salah seorang dari kamu sekalian, tempat dia makan._*
*_Kemudian saya dengar juga, wallaaHu a’lam wa Ahkam, bahwa malaikat Maut itu memandang wajah setiap Bani Adam sebanyak 366 kali. Dan bahwa Malaikat Maut itu memandang ke setiap rumah yang ada di bawah naungan langit sebanyak 600 kali._*
*_Dan saya dengar lagi, bahwa Malaikat Maut itu berdiri di tengah-tengah dunia ini. Dia memandang ke segala penjurunya; daratan, lautan dan gunung-gunungnya. Dunia di hadapannya hanyalah seperti sebutir telur di antara sepasang kaki seorang di antara kamu sekalian._*
*_Dan saya dengar lagi, bahwa Malaikat Maut itu mempunyai banyak pembantu, yang hanya diketahui Allah swt saja berapa jumlah mereka. Tidak seorang pun dari para malaikat pembantu itu, melainkan andaikan diizinkan menelan seluruh langit sekali telah, niscaya dilakukannya._*
*_Dan saya dengar pula, bahwa Malaikat Maut itu ditakuti oleh para malaikat lainnya, lebih dari takutnya seorang dari kamu sekalian terhadap binatang buas._*
*_Dan saya dengar pula, bahwa para Malaikat Pembawa ‘Arsy, jika seseorang dari mereka didekati oleh Malaikat Maut, maka lelehlah dia dan mengecil sampai menjadi seperti seutas rambut karena demikian takutnya._*
*_Dan saya dengar, bahwa Malaikat Maut itu mencabut nyawa anak Adam dari bawah dari tiap-tiap anggota tubuhnya. Yakni, dari kukunya, urat-uratnya, dan rambutnya. Dan tiap kali nyawa itu sampai dari sendi ke sendi yang lain, maka rasa sakitnya lebih dahsyat daripada dipukul 1000 kali pukulan pedang._*
*_Saya dengar bahwa andaikan sakitnya rambut dari seorang yang meninggal dunia ditempelkan pada langit dan bumi, niscaya mereka akan meleleh. Sehingga manakala nyawa orang yang akan meninggal dunia itu telah sampai di tenggorokan, barulah malaikat Maut melakukan pencabutan._*
*_Dan saya dengar, bahwa apabila Malaikat Maut telah mencabut nyawa orang Mukmin, maka dia letakkan nyawa itu dalam kain sutera putih, dengan minyak kasturi yang semerbak. Dan apabila mencabut nyawa orang kafir, maka nyawanya diletakkan pada kain hitam dalam tembikar api, baunya lebih busuk dari bangkai.”_*
*_(Imam Syamsuddin al-Qurthubi, penulis buku ini menyatakan bahwa semua berita yang didengar mengenai Malaikat Maut tersebut, tidak dilandasi dengan isnad-isnad yang shahih dari Nabi saw. Maka tidak patut diyakini keshahihannya. Karena semua itu termasuk perkara ghaib, yang hanya bisa diketahui dari wahyu. Kendatipun dalam hadits-hadits shahih telah diriwayatkan secara tsabit tentang betapa beratnya sakaratul maut, namun disana tidak ada rincian-rincian seperti itu, dan tidak ada keterangan mengenai Malaikat Maut dengan sifat-sifat tersebut. wallaaHu a’lam.)_*
*_Menurut sebuah khabar, bahwa apabila kematian seorang mukmin sudah dekat, maka turunlah empat malaikat. Satu malaikat menarik nyawa si mukmin itu dari kaki kanan, satu lagi menarik dari kaki kiri. Maka, nyawanya mengalir bagaikan tetesan air dari pancuran. Lalu, mereka menariknya dari ujung-ujung jari. Adapun orang kafir, nyawanya dicabut seperti batang besi pemanggang daging yang dicabut dari dalam gulungan woll yang basah. Demikian disebutkan oleh Abu Hamid dalam “Kasyf Ulum al-Akhirah.”_*
*_Mendengar semua itu, bayangkan dirimu, hai orang yang terpedaya! Ketika dirimu mengalami sakaratul maut. Bayangkan dirimu saat itu sedang merintih dan susah-payah menanggung derita, tapi orang lain justru berkata, “Sesungguhnya Fulan telah memberi wasiat, dan hartanya sudah dihitung.”_*
*_Ada lagi yang berkata: “Sungguh, Fulan sudah berat lidahnya. Dia sudah tidak kenal lagi tetangganya, dan sudah tidak bisa bicara pada saudara-saudaranya.”_*
*_Ya, begitulah, seakan-akan saya bisa melihatmu saat itu mendengar pembicaraan mereka, tetapi kamu tidak bisa menjawabnya._*
*_Kemudian anak perempuanmu menangis bagaikan seorang tawanan._*
*_Dengan menunduk dia mengadu, “O, kekasihku! O, ayahandaku, siapakah yang akan menanggung hidupku yang sebatangkara sepeninggalanmu nanti? Siapakah yang akan memenuhi keperluan-keperluanku?” demi Allah, saat itu pasti kamu akan mendengar perkataan mereka, tetapi kamu tidak bisa menjawabnya._*
*_Bayangkan dirimu wahai anak Adam! Ketika kamu diambil dari tempat tidurmu menuju papan pemandian jenazah._*
*_Lalu kamu pun dimandikan dan dibungkus kain kafan. Keluarga dan tetanggamu untuk sementara merasa kehilangan atas dirimu, dan kamu ditangisi teman-teman dan saudara-saudaramu._*
*_Sedang orang yang memandikan tubuhmu berkata, “Mana istri Fulan? Kamu telah berpisah dengan suamimu. Mana anak-anak yatim? Kalian telah ditinggalkan ayahmu! Kalian tidak melihatnya lagi sejah hari ini untuk selama-lamanya._*
*Dengarlah sebuah lantunan syair berikut ini:*
*_Ingatlah, hai orang yang terpedaya._*
*_Kenapa kamu bermain saja?_*
*_Kamu dambakan segala macam harapan,_*
*_Padahal kematianmu makin dekat jua._*
*_Kamu tahu, tamak itu bagai lautan._*
*_Kapal yang dekat ia jauhkan._*
*_Dan ternyata kamu jadi sasaran._*
*_Pada gilirannya kamu kena hantaman._*
*_Kamu tahu, kematian itu penjagal cita_*
*_Segala keyakinanmu, cepat, dihadang._*
*_Penggalan maut sakit dirasa,_*
*_Kamu tahu memang tidak nyaman._*
*_Seakan-akan kamu berpesan kata_*
*_Sambil memandang anak-anakmu yatim merana_*
*_Sementara ibu mereka menanggung derita,_*
*_Berteriak tangis, duka nestapa._*
*_Rupaya dia tercekik oleh kesedihan_*
*_Lalu dia tampar sendiri tembam mukanya._*
*_Dilihat orang sembarang pria_*
*_Padahal semula hidup terjaga._*
*_Seorang datang padamu bawa kain kafan,_*
*_Bekal pembungkus ragamu dalam lipatan_*
*_Lalu tanah kuburan dia timbunkan,_*
*_Meski air mata linang-tergenang._*
πππ